Three Cute Cherries


Jumat, Desember 09, 2011

KIMIA INSTRUMEN

Tahun 1930, kimiawan masih memakai kimiawi basah, atau tabung uji, metode yang berubah sedikit sekali selama ratusan tahun: uji reagan, titrasi, penentuan titik didih dan beku, analisis pembakaran unsur, argumen struktural sintetik dan analitik, dan seterusnya. Diawali dengan laboratorium komersial yang memberikan sebuah sumber daya untuk analisa rutin dan dengan ditemukannya pH meter yang menggantikan indikator kimiawi, kimiawan mulai bertopang pada instrumen fisika dan spesialisasi ketimbang metode kimiawi basah. Instrumen fisika memberikan pandangan yang lebih tajam yang dapat melihat hingga tingkat molekul dan atom.
Prinsip Spektroskopi Raman
Tahun 1910an, J.J. Thomson dan pendampingnya, Francis Aston, telah mengembangkan spektrograf massa untuk mengukur berat atom dan molekul dengan sangat teliti. Ia semakin teliti seiring waktu sehingga pada tahun 1940an, spektrograf massa diubah menjadi spektrometer massa – bukan lagi sebuah mesin untuk berat atom tapi sebuah alat analisis untuk menentukan senyawa rumit yang belum diketahui. Begitu juga dengan sejarah kolorimetri yang panjang. Tahun 1940an, prinsip kolorimetrik diterapkan pada instrumen untuk membuat sejumlah spektrofotometer, mulai dari spektroskopi tampak, inframerah, ultraviolet hingga Raman. Penambahan spektrometer laser dan teknologi komputer memberikan ketelitian lebih dalam lagi sehingga menyediakan alat-alat penting untuk mempelajari kinetik dan mekanisme reaksi.
Spektrophotometer Portabel
Kromatografi, yang dipakai selama bergenerasi untuk memisahkan campuran dan menentukan keberadaan zat target, lebih berkembang lagi, khususnya pada kromatografi gas (GC). Resonansi magnetik nuklir (NMR) yang memakai gelombang radio yang berinteraksi dengan medan magnet untuk mengungkapkan lingkungan kimiawi atom hidrogen dalam sebuah senyawa juga dikembangkan setelah perang dunia kedua. Mesin NMR awal tersedia tahun 1950an; tahun 1960an mereka menjadi tulang punggung analisis kimia organik. Di saat yang sama, kombinasi GC-NMR juga dikembangkan, dan memberikan ahli kimia kemampuan memisahkan dan menganalisa jumlah sampel yang sangat kecil. Tahun 1980an, NMR menjadi dikenal umum, saat teknik ini dipakai untuk kedokteran – walaupun istilahnya diubah menjadi Pencitraan resonansi magnetik (MRI) untuk menghindari kata nuklir yang bercitra negatif.
Prinsip Kromatografi Gas
Banyak lagi metode instrumental yang berkembang seperti resonansi paramagnetik elektron dan difraksi sinar X. Singkatnya, antara tahun 1930 dan 1970, revolusi analitik kimia mengubah arah sains dan mempercepat kemajuannya. Dan kemajuan kimia analitik masih terus berlangsung pada pertiga akhir abad ini.
Referensi
1.      Joseph S. Fruton, Proteins, Enzymes, Genes: The Interplay of Chemistry and Biology (1999),
2.      Alan J. Rocke, Nationalizing Science: Adolphe Wurtz and the Battle for French Chemistry (2001),
3.      John W. Servos, Physical Chemistry from Ostwald to Pauling: The Making of a Science in America (1990),

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar