Three Cute Cherries


Jumat, Desember 09, 2011

CARA SEDERHANA MENCEGAH VIRUS FLU

Antara tahun 1918 dan 1920, sebuah wabah influensa telah melanda dunia, menginfeksi lebih dari seperempat penduduk dunia dan membunuh 50 hingga 100 juta orang.
Jika wabah serupa terjadi saat ini, vaksin mungkin bisa membantu, namun  produksi vaksin dalam jumlah yang memadai seringkali tidak akan tercapai pada waktu yang tepat. Selain itu, rumah sakit kemungkinan akan kewalahan, meninggalkan banyak pasien yang terpaksa harus dirawat oleh anggota keluarga sendiri di rumah.
Dalam situasi itu, intervensi non-farmasi (NPI) menjadi penting untuk meminimalkan penyebaran infeksi, kata Richard Larson dan Stan Finkelstein, anggota Engineering Systems Division (ESD) MIT, yang berupaya mencari solusi dalam mencegah penyebaran flu di antara anggota keluarga dan orang-orang yang tinggal atau bekerja dalam jarak dekat.
“Kami pikir, ‘Mari kita lihat dinamika rumah dan melihat apakah ada langkah-langkah yang cukup murah yang bisa dilakukan untuk merawat orang yang dicintai sekaligus meminimalkan kemungkinan terinfeksi,’” kata Larson, Profesor Sistem Rekayasa Mitsui.
Larson dan Finkelstein, bersama rekan-rekan lainnya, menemukan bahwa langkah-langkah seperti mencuci tangan secara benar, menggunakan masker serta secara strategis mengendalikan suhu kelembaban dan sirkulasi udara, semua ini bisa membantu mengurangi kemungkinan penyebaran flu dari orang yang sakit. Mereka melaporkan temuan mereka ini pada edisi Desember Disaster Medicine and Public Health Preparedness, yang dipublikasikan oleh American Medical Association.
Meskipun rekomendasi mereka berfokus pada pandemi flu, strategi ini juga bisa mencegah penyebaran flu musiman biasa.
Melawan balik flu
Termotivasi oleh kekhawatiran pada strain flu yang berpotensi merugikan seperti H5N1 (flu burung), Larson dan Finkelstein telah mempelajari influenza selama lima tahun terakhir, berfokus pada cara non-medis untuk mencegah penyebaran penyakit. Dalam tulisan terbaru, mereka meninjau 40 studi tentang efektivitas berbagai intervensi non-farmasi dan mengidentifikasi pendekatan yang telah didemonstrasikan untuk mengurangi penularan virus flu.
Virus flu menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara atau bernafas, memancarkan partikel yang mengandung virus. Partikel-partikel tersebut secara langsung dapat kontak dengan orang lain, permukaan mantel yang tersentuh oleh orang lain atau mengapung di udara, di mana pun orang lain bisa menghirupnya.
Untuk mencegah penularan, para peneliti merekomendasikan langkah-langkah berikut:
  • Cuci tangan dengan bersih setelah meninggalkan kamar pasien. Ini artinya, tangan harus digosok dengan sabun dan air atau pembersih tangan berbasis alkohol selama 20 sampai 30 detik, atau jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyanyikan lagu “Happy Birthday” sebanyak dua kali.
  • Memakai masker. Meskipun tidak meyakinkan apakah masker dapat memblokir virus yang berterbangan, “namun ini adalah satu hal yang kami pelajari dari literatur yang kami lihat bahwa orang yang sehat adalah mereka mengenakan masker dan masuk ke ruang perawatan serta menyentuh permukaan yang terinfeksi, masker membuat virus sulit untuk menyentuh hidung dan mulutnya,” kata Finkelstein, yang juga seorang profesor di Harvard Medical School.
  • Instalasi filter udara. Filter high-efficiency particulate air (HEPA) dapat menghapus hampir 98 persen partikel virus. Portabel pemurni udara juga dapat membantu, serta kipas angin penyedot udara yang dipasangkan pada jendela di ruang perawatan.
  • Mengontrol suhu dan kelembaban. Suhu dan tingkat kelembaban yang lebih tinggi dapat membunuh atau menonaktifkan virus.
  • Memasang sinar ultraviolet. Sinar UV adalah pemurni udara portabel yang bersifat antimikroba.
Sudah ada bukti bahwa tindakan-tindakan tersebut dapat mengurangi penularan flu. “Tidak ada yang kontroversial dengan apa yang kami usulkan ini,” kata Larson. “Kontribusi kami secara sistemik melalui beberapa dekade literatur ilmiah dan memilih apa yang kami anggap sebagai potongan kerja yang patut dicontoh dan menempatkan mereka ke dalam sebuah kerangka sistem-rekayasa.”
Meminimalkan resiko
Untuk mengkalkulasi tingkat penyebaran flu, Larson dan Finkelstein mengkalikan jumlah kontak antar-muka yang dialami orang terinfeksi dalam sehari dengan kemungkinan bahwa infeksi akan menyebar dari orang yang terinfeksi ke orang yang rentan. Angka ini dapat dikurangi baik dengan meminimalkan jumlah kontak yang dialami orang sakit dan dengan mengambil langkah-langkah yang diuraikan dalam makalah ini, tulis para peneliti.
“Hal ini tidak akan mengurangi risiko menjadi nol, dan apakah kami tahu secara ilmiah berapa persentase risiko yang berkurang dengan tindakan ini? Tidak. Tapi kita merasa yakin bahwa tindakan ini penting, jika sebagian besar langkah-langkahnya dilaksanakan,” kata Larson.
Memang dibutuhkan biaya rumah tangga, namun, mengambil langkah-langkah ini adalah lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa, kata para peneliti.
Makalah ini “memberikan bukti kuat bahwa kebersihan dan langkah-langkah pencegahan yang sederhana dapat mengurangi penularan influenza dalam lingkungan rumah,” kata Allison Aiello, seorang profesor epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat University of Michigan. “Semua ini dapat dengan mudah diimplementasikan dalam [rumah tangga atau tempat kerja], namun perlu disebarluaskan bersama dengan pendidikan tentang cara menggunakan langkah-langkah ini secara efektif,” tambah Aiello, yang bukan bagian dari tim peneliti.
Pada bulan Februari nanti, Finkelstein dan Larson berencana untuk bertemu dengan para pejabat Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) untuk menyajikan temuan mereka ini dan mendorong mereka untuk menambahkan langkah-langkah ini ke dalam daftar rekomendasi resmi agensi untuk membantu memerangi flu.
“Ini merupakan investasi yang cukup bagus untuk mengurangi kemungkinan terinfeksi,” kata Larson. “Kami berharap CDC akan memperhatikan dan memanfaatkan ini sebagai bagian dari portofolio edukasi publik Amerika.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar