Three Cute Cherries


Senin, Oktober 31, 2011

debu kosmik mengandung bahan organik

Bintang tidak hanya memproduksi bahan organik kompleks ini, tapi juga mendepaknya ke dalam ruang antar bintang, yaitu kawasan di antara bintang-bintang.

Dalam jurnal Nature, para astronom melaporkan bahwa senyawa organik dengan kompleksitas yang tak terduga terdapat di seluruh alam semesta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa organik kompleks bukanlah domain kehidupan semata, melainkan dapat terbentuk secara alami oleh bintang-bintang.
Prof. Sun Yong Kwok dan Dr. Zhang dari Universitas Hong Kong menunjukkan bahwa zat organik yang umum ditemukan di seluruh alam semesta mengandung campuran komponen aromatik (mirip cincin) dan alifatik (mirip rantai). Senyawa ini sedemikian kompleks sehingga struktur kimianya mirip dengan batubara dan minyak bumi. Karena batubara dan minyak adalah sisa-sisa dari kehidupan purba, jenis bahan organik ini diduga hanya berasal dari organisme hidup. Penemuan tim menunjukkan bahwa senyawa organik yang kompleks dapat bersintesis dalam ruang angkasa meskipun tidak ada bentuk kehidupan yang hadir.
Para peneliti menyelidiki sebuah fenomena yang belum terpecahkan: satu set emisi inframerah yang terdeteksi pada bintang-bintang, ruang antarbintang, dan galaksi. Tanda-tanda spektral ini dikenal sebagai “fitur-fitur Emisi Inframerah Teridentifikasi”. Selama lebih dari dua dekade, teori yang paling umum yang diterima tentang asal-usul tanda alam ini adalah bahwa mereka berasal dari molekul organik sederhana yang terbuat dari atom karbon dan hidrogen, yang disebut molekul hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH).
Sebuah spektrum inframerah dari Infrared Space Observator milik Badan Antariksa Eropa ditumpangkan pada gambar nebula Orion, di mana organik kompleks ini ditemukan. (Kredit: NASA, C.R. O'Dell, S.K. Wong - Rice University)
Dari pengamatan yang diperoleh dengan Infrared Space Observatory dan Spitzer Space Telescope, Kwok dan Zhang menunjukkan bahwa spektrum astronomis tersebut memiliki fitur yang tidak bisa dijelaskan dengan molekul PAH. Sebaliknya, tim riset mengusulkan bahwa zat-zat yang menghasilkan emisi inframerah ini memiliki struktur kimia yang jauh lebih kompleks. Dengan menganalisis spektrum dari debu bintang yang terbentuk dalam ledakan bintang yang disebut nova, mereka menunjukkan bahwa bintang membuat senyawa-senyawa organik kompleks ini pada skala waktu yang sangat pendek.
Bintang tidak hanya memproduksi bahan organik kompleks ini, tapi juga mendepaknya ke dalam ruang antar bintang, yaitu kawasan di antara bintang-bintang. Pekerjaan ini mendukung gagasan sebelumnya yang diusulkan oleh Kwok bahwa bintang-bintang tua adalah pabrik molekul yang mampu memproduksi senyawa organik. “Pekerjaan kami menunjukkan bahwa bintang tidak punya kesulitan dalam membentuk senyawa organik kompleks di bawah kondisi mendekati-vakum,” kata Kwok. “Secara teoritis, ini memang mustahil, tapi observasional kami bisa melihat hal itu terjadi.”
Yang paling menarik, debu organik bintang ini serupa dalam hal struktur senyawa organik kompleks yang ditemukan pada meteorit. Karena meteorit merupakan sisa-sisa dari Tata Surya awal, maka temuan ini menambah kemungkinan bahwa bintang-bintang memperkaya Tata Surya awal dengan senyawa organik. Bumi awal menjadi sasaran pembombardiran berat komet dan asteroid, yang berpotensi membawa debu-debu organik bintang. Apakah penghantaran senyawa organik ini memainkan peran dalam perkembangan kehidupan di bumi tetap menjadi pertanyaan terbuka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar